mengubur tidur

Hari ini ada rumah yang digusur
Besok juga pasti ada yang menganggur
Ahh!! Aku mulai ngelindur
Ini pasti karena tidak bisa tidur.

 on Friday, December 9, 2011 at 5:18am 
Posted in Sajak | Leave a comment

Siapa?

 Semakin jauh kau masuk dalam duniaku, semakin semerbak dupa merambah. Kesekian puluh kali ku hipnotis dirimu dalam lantunan suara muramku, sekilas pula mendung mega kurasakan seperti gemerlap hatimu. Aku sepertimu walau tiada lain orang yang mungkin bisa melihat dengan wajah senang. Kita sama, hanya berbeda nasib.

  Perbedaan kini menjadi saksi mati kita dalam melihat dunia, ketidaknyataanku dalam dunia nyata tidak perlu dipertanyakan dan dipertanggungjawabkan. Biar dunia kecil ini hanya menjadi milik kita bersama tanpa harus meragukan apa yang kita rasakan. Biarkan perasaan ini mengarah pada kegelapan yang sejatinya menuntun kita pada kebaikan bersama.

  Kebaikan yang tak ada titian diri dalam rengkuhan kelam lantunan jahat kematian. Ini memang tidak adil karena tidak ada sedikit niat baik dalam gemerlap racauanku yang membuas melalui jari-jari kecil gadis ini, yang membius tiap inci sel syaraf otaknya dan kusuruh untuk terus mati dan mati. Dan dia tidak ingin mati… Dia hanya takut untuk mengetahui kenyataan kalau dunia ini tidak nyata dan apapun yang dianggap tidak nyata adalah hal nyata.

  Kini, semerbak dupa semakin pekat. Panas menggelora di sekitarnya. Ini tidak nyata, ini tidak nyata…. Namun, semakin kau yakinkan diri bahwa ini semua tidak nyata, semakin masuk diriku lebih jauh dalam rintihan cerita deritaku yang telah tiada. Lalalalala… Kau dendangkan dalam hati banyak lagu-lagu yang ternyata sama muram dengan deritaku.Tidakkah kau tahu lagu pujian akan kehidupan yang mengagungkan cinta?

  Cinta, memikirkan hal seperti itu membuat kepala sakit. Tanpa perlu memikirkan hal itu pun aku telah mati dalam rasa sakit hati pada jahatnya dunia padaku. Aku marah… itu mengakibatkan semerbak dupa yang terus menusuk hidung, menarik helai-helai bulu kuduk gadis kecil ini. Di dalam kamar gelapnya, langkah kakiku terhenti. Menemaninya, mendengarkan lagu-lagu gelap dan membantu mengarahkan jemarinya untuk terus menari di atas puluhan tombol yang menyala redup untuk menceritakan kisahku pada kalian.

on Saturday, December 3, 2011 at 3:08am

Posted in Cerita | Leave a comment

Anak-Anak Rasa

Tenang, baru saja pergi. Entahlah kemana? Tadi dia lupa pamit padaku.

Tenang, aku suruh ia datang sore tadi. Tapi ternyata cuma mampir, aku pikir ia akan menginap, barang sehari, seminggu, sebulan atau selama-lamanya.
Tapi memang tidak mungkin selamanya sih dia tinggal di sini, Tenang itu cepat bosan. Ia suka pergi jalan-jalan, apalagi kalau Cemas dan Panik datang berkunjung.

Kenapa sih kalian sukar bertemu? Kan kalian semua sama. Sama-sama anak Rasa, yang tinggal di dalam jiwa kami.

#kamar gelap, nyamuk & semoga lekas sembuh Ibu.

on Tuesday, November 29, 2011 at 1:02am

Posted in Cerita | Leave a comment

Orang Utan

Atas nama apapun itu
Terus saja jarah rumahku!
Bakar! Hijau paru-paru ibuku…
Lumat habis semua nyawa saudara-saudaraku!!

Kini kelapa sawit sudah habisi rumah kami
Tapi ini tetap tanah ibu Bumi
Kami harus kemana lagi?
Jadi kami tetap bertahan disini

Biar, asal kami masih tetap hidup
Namun, sekarang semua semakin buruk
Kami diburu, diusir dan dibunuh… tapi kami harus kemana lagi untuk bisa bertahan hidup???
Lelahnya jiwa kami hidup dalam teror manusia busuk!!

Bunuh terus! Pukul terus!
Terkutuk kalian semua…
Sebentar lagi, mata rantai akan terputus.
Kami musnah, Ibu murka lalu kalian juga akan binasa.

on Tuesday, November 15, 2011 at 2:11am 

Posted in Sajak | Leave a comment

Di Tepi Trotoar Kemayoran

Jakarta, 27 Okt 2011. Ditengah terik matahari siang jalanan Kepu, Kemayoran. Alunan orkestra dari orang-orang frustrasi terus mengiringi hari yang melelahkan bagi sebagian kita. Debu-debu beterbangan, Asap dari kendaraan bermotor menambah panas dan sesak udara yang kita hirup. Dengan hiruk pikuk buruh pengebor pipa listrik PLN yang mempersempit ruang gerak kendaraan dan sebagian besar dari pikiran kami. Palang kereta di tengah siang bolong, juga tidak memberikan kami sedikit celah untuk melewati peragaan kereta yang tengah lewat bagai model catwalk yang melaju dengan kecepatan 250 KM / Jam. Ruang, kami butuh sedikit kebebasan untuk tidak terikat.

Namun, sirine motor Polisi Militer yang baru saja berbunyi ditengah orkestra frustrasi manusia yang berjejal membuat khayalanku menjadi nyata. sirine terus berbunyi mencerca siapapun yang menghalangi jalan, membuat sebagian besar dari kami merasa risih dan lebih baik menyingkir ke tepian daripada terlibat masalah dengan mereka. Ruang. Di saat sebagian besar dari kami membutuhkan ruang untuk bergerak setidaknya lepas dari belenggu kemacetan dan terik ini, melintas dengan angkuh RI 13 dengan beberapa polisi militer dan penjagaan yang cukup ketat. Angkuh, itulah setidaknya yang terpikir oleh ku, seorang rakyat yang belum pernah dikawal oleh mobil polisi militer dan dengan mudahnya menerobos kerumunan masa di jalanan yang sesak berjejal.

Panas terus bergulir hingga sebagian dari kami terlelap di dalam lelahnya matahari bersinar, Alunan orkestra mulai beralih pada kehidupan sebagian dari kami yang terus melihat kekerasan demi kekerasan hingga kekerasan itu sudah tidak tampak memiliki taring oleh sebagian dari kami. Itu wajar, kami cenderung apatis dan menganggap kekerasan antar sesama pelajar yang kami saksikan bersama adalah tontonan sebagai teman santap ‘ketan kobok’ yang kami telan. dan tak jarang bersamaan dengan bberapa anak muda yang menelan bogem mentah dari sesamanya.

Senja beralih menjadi malam cerah dan berangin. Menatap kota jakarta tengah malam dari atas roda dua, melewati danau sunter dan apartemen-apartemen mewah dan rumah-rumah seluas lapangan sepak bola. Disitulah sebagian dari kami melepas lelah, lesehan di pinggir-pinggir trotoar bercengkrama, tertawa, dalam balutan cahaya kuning sejuk lampu jalan. Indah dan nyaman dengan segelas kopi panas di pelataran Taman Ismail Marzuki hingga tengah malam selanjutnya.

Tengah malam menjumpai sebagian dari kami, memeluk dingin dan lengket tubuh sebagian dari kami. Membuatku melamun, hingga saja sebagian dari kami secara sadar melihat semua hal yang belum perlu kita lihat, mendengar semua hal yang belum seharusnya di dengar dan melakukan semua hal yang seharusnya belum dilakukan. Sebagian dari kami, melongkapi waktu, dimensi. mereka yang disana terus berbisik dan berbisik, membuat sebagian dari kami sadar. Bagaimana juga kebanyakan dari manusia masih memiliki sifat manusiawi, dimana mereka hanya ingin mendengar apa yang ingin mereka dengar, melihat apa yang ingin mereka lihat dan mendapatkan apa yang mereka ingin dapatkan.

Lalu bagaimana dengan ia yang tidak terima dengan hal yang ia dengar? Ia meneluh, ia meneror, ia marah, ia dengki. semua keburukan yang dilakukan terlintas agar kuasanya dapat terpenuhi. Sebagian mereka yang tidak bersalah tidak tahu, sebagian dari mereka pun tahu. Jangan pura-pura terlihat berlapang dada kalau memang belum siap menerima, sebagian besar dari kita pun tahu itu tidak baik.

on Friday, October 28, 2011 at 7:22pm

Posted in Cerita | Leave a comment

Hujan di Bandung

Aku merindukan hujan yang turun di bulan november
Dalam dekapan hangat dan alunan lagu tentang hujan
Tak berhujan disini, bahkan pujaan untuk hujan
Aku rindu hujan di Bandung

on Thursday, September 22, 2011 at 11:16pm

Posted in Sajak | Leave a comment

Belalang

Ilalang yang tadi terbang
Melayang sebab ia mau pulang
Hilang, sembunyi dari belalang yang akan datang
Tersisa sesal belalang saat petang datang

on Wednesday, September 14, 2011 at 7:13am

Posted in Sajak | Leave a comment